Setelah 10 hari di luar angkasa dan perjalanan memecahkan rekor mengelilingi Bulan, kru Artemis II bersiap untuk fase terakhir dan paling penting: kembali ke Bumi. Misi tersebut, yang menandai penjelajahan awak pertama ke luar angkasa dalam lebih dari lima dekade, kini memasuki tahap peluncuran yang berisiko tinggi.
Hitung Mundur Terakhir: Apa yang Diharapkan
Kembalinya pesawat ruang angkasa Orion adalah operasi dengan waktu yang tepat. Transisi dari penerbangan orbit ke masuk kembali ke atmosfer melibatkan beberapa tahapan cepat:
- 19:33 ET: Modul kru (kapsul berisi astronot) akan terlepas dari modul layanan, yang menyediakan tenaga dan penggerak.
- 19:37 ET: Kapsul akan menembakkan pendorongnya untuk menyesuaikan diri pada lintasan penurunan.
- 19:53 ET: Kapsul tersebut akan menghantam lapisan atas atmosfer bumi dengan kecepatan yang mengejutkan 24.000 mph.
- 20:07 ET: Setelah periode perlambatan akibat gesekan atmosfer dan penyebaran parasut, kapsul tersebut diperkirakan akan jatuh di Samudera Pasifik, sebelah barat San Diego.
Catatan untuk pengamat: Meskipun masuknya kembali dapat menghasilkan ledakan sonik yang dapat terdeteksi di beberapa bagian California Selatan, pesawat ruang angkasa itu sendiri kemungkinan besar tidak akan terlihat dengan mata telanjang, karena akan turun ke lautan pada siang hari.
Misi Pertama dan Rekor
Artemis II ditentukan berdasarkan tonggak sejarahnya dan perannya sebagai “tempat uji coba” untuk masa depan eksplorasi bulan. Para kru—terdiri dari Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen —telah mencapai beberapa prestasi signifikan:
- Memecahkan Rekor: Para kru melampaui rekor jarak yang sebelumnya dipegang oleh Apollo 13, menempuh jarak 252.756 mil dari Bumi.
- Perspektif Baru: Para astronot menangkap citra resolusi tinggi dari sisi jauh Bulan—area yang tetap berada dalam bayangan selama era Apollo—yang menghasilkan data geologi yang belum pernah ada sebelumnya.
- Mendobrak Hambatan: Para kru terdiri dari pria kulit hitam pertama (Glover), wanita pertama (Koch), dan orang Kanada pertama (Hansen) yang melakukan perjalanan mengelilingi Bulan.
Menguji Batas: Keberhasilan dan Kemunduran
Meskipun misi ini merupakan kemenangan navigasi dan observasi, misi ini juga menjadi uji coba yang ketat bagi perangkat keras NASA. Para kru menghadapi beberapa tantangan dunia nyata, termasuk gangguan komunikasi dan masalah mekanis pada toilet pesawat ruang angkasa, sehingga menyoroti perlunya TI khusus dan dukungan pipa dalam penerbangan luar angkasa jangka panjang.
Yang lebih penting lagi, misi ini telah menguji sistem pendukung kehidupan dan propulsi inti yang diperlukan untuk menopang manusia di luar angkasa. Namun, misi tersebut bukannya tanpa kontroversi.
Debat Perisai Panas
Titik ketegangan yang signifikan adalah pada pelindung panas Orion. NASA telah mengakui kelemahan dalam desain perisai tersebut, meskipun badan tersebut menyatakan bahwa lintasannya telah direncanakan dengan cermat untuk mengurangi risiko ini dan memastikan keselamatan. Terlepas dari keyakinan NASA, beberapa astronot dan insinyur veteran telah menyuarakan kekhawatiran mereka, dan menyatakan bahwa risiko yang ditimbulkan oleh ketidaksempurnaan perisai seharusnya menghalangi peluncuran tersebut.
Melihat ke Depan
Keberhasilan Artemis II tidak diukur hanya dari kembalinya awak kapal dengan selamat, namun dari data yang dikumpulkan selama perjalanan sejauh 695.000 mil. Dengan menguji pakaian antariksa baru, sistem pendukung kehidupan darurat, dan kemampuan docking, NASA membangun landasan untuk tujuan yang jauh lebih ambisius: mendaratkan manusia kembali ke permukaan bulan dan, pada akhirnya, bertualang menuju Mars.
Kesimpulan: Saat kapsul Orion bersiap turun ke atmosfer, Artemis II berdiri sebagai jembatan yang sukses, meski menantang, antara era Apollo dan masa depan kehadiran manusia permanen di luar angkasa.





















