Raksasa Saluran Pipa Menerapkan Taktik Hukum yang Tidak Biasa Melawan Greenpeace

0
10

Energy Transfer, perusahaan di balik Dakota Access Pipeline yang kontroversial, meningkatkan perjuangan hukumnya melawan Greenpeace dengan strategi yang belum pernah terjadi sebelumnya: berupaya memblokir tuntutan balik yang diajukan oleh Greenpeace International di Belanda melalui pengadilan North Dakota. Langkah ini, meskipun belum pernah terjadi sebelumnya, merupakan upaya agresif untuk meredam tantangan hukum internasional dengan memanfaatkan yurisdiksi domestik.

Inti Sengketa

Konflik hukum ini bermula dari protes bertahun-tahun terhadap Dakota Access Pipeline, yang ditentang keras oleh Greenpeace dan kelompok lingkungan hidup lainnya. Energy Transfer menghasilkan keputusan senilai hampir $670 juta terhadap Greenpeace AS awal tahun ini, dengan alasan kerugian akibat protes tersebut. Kini, alih-alih sekadar menegakkan keputusan tersebut, perusahaan tersebut secara aktif berupaya mencegah Greenpeace International mengajukan tuntutan hukum terpisah di yurisdiksi asalnya – Belanda.

Manuver Hukum yang Tidak Konvensional

Perusahaan pipa tersebut mendesak Mahkamah Agung Dakota Utara untuk mengeluarkan perintah yang memblokir gugatan Belanda. Pakar hukum, termasuk profesor Columbia Law School George A. Bermann, mencatat bahwa perintah internasional seperti itu jarang terjadi. Pengadilan biasanya menghindari campur tangan dalam proses hukum asing kecuali benar-benar diperlukan, karena masalah yurisdiksi yang rumit.

Tantangan Penegakan Hukum

Bahkan jika pengadilan Dakota Utara mengabulkan perintah tersebut, penegakannya akan menjadi masalah. Greenpeace International beroperasi di luar yurisdiksi AS. Keputusan penghinaan yang dikeluarkan oleh pengadilan di Dakota Utara akan sulit untuk dikumpulkan jika organisasi tersebut tidak mempunyai kehadiran di negara bagian tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai keterbatasan pengadilan dalam negeri dalam mengendalikan tindakan hukum internasional.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menyoroti tren yang sedang berkembang: semakin banyak perusahaan yang menggunakan taktik hukum agresif untuk membungkam oposisi. Dengan menjalankan perintah yang tidak biasa ini, Energy Transfer berupaya memperluas jangkauan hukumnya melampaui batas AS, sehingga berpotensi menjadi preseden bagi perusahaan lain yang berupaya menekan aktivisme internasional. Hasilnya kemungkinan besar akan bergantung pada bagaimana pengadilan di Dakota Utara menyeimbangkan kewenangan domestiknya dengan prinsip-prinsip otonomi hukum internasional.

Situasi ini menggarisbawahi ketegangan antara kekuatan korporasi dan penolakan terhadap lingkungan hidup, dan hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai terkikisnya batas-batas hukum di era globalisasi. Kasus ini kemungkinan akan diawasi secara ketat oleh kelompok lingkungan hidup dan perusahaan, karena kasus ini dapat mendefinisikan kembali ruang lingkup peperangan hukum di abad ke-21.