Kanguru Raksasa Melompat Meskipun Ukurannya Besar, Analisis Fosil Baru Mengonfirmasinya

0
11

Penelitian paleontologi baru-baru ini membalikkan asumsi lama tentang cara gerak kanguru raksasa yang telah punah. Sebuah tim dari Universitas Bristol, Universitas Manchester, dan Universitas Melbourne telah menunjukkan bahwa megafauna Zaman Es ini – beberapa di antaranya memiliki berat hingga 250 kg (lebih dari dua kali ukuran kanguru merah modern) – secara fisik mampu melompat. Studi ini menantang perkiraan sebelumnya yang menyatakan bahwa melompat secara mekanis tidak mungkin dilakukan pada hewan dengan berat melebihi 150 kg.

Memikirkan Kembali Batasan Ukuran dalam Evolusi Kanguru

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan percaya bahwa ketika kanguru tumbuh lebih besar selama zaman Pleistosen (2,6 juta hingga 11.700 tahun yang lalu), mereka harus berhenti melompat demi gaya berjalan yang lebih ramah lingkungan. Logikanya sederhana: massa tubuh yang lebih besar seharusnya memberikan tekanan yang tidak berkelanjutan pada kaki belakangnya. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa kanguru purba ini bukan sekadar versi spesies modern yang lebih besar; mereka memiliki adaptasi anatomi berbeda yang memungkinkan mereka mengatasi keterbatasan ini.

Tim menganalisis tulang kaki belakang dari 94 kanguru dan walabi modern, serta 40 spesimen fosil dari genus Protemnodon yang telah punah. Dengan menghitung kapasitas menahan beban metatarsal keempat (tulang penting untuk melompat) dan menilai struktur tulang tumit, para peneliti menentukan bahwa kanguru raksasa memiliki tulang kuat dan dukungan tendon yang diperlukan untuk menahan tekanan saat melompat.

Bagaimana Kanguru Raksasa Melompat

Studi tersebut mengungkapkan bahwa metatarsal kanguru raksasa cukup kuat untuk menahan tekanan fisik saat melompat, dan tulang tumit mereka cukup besar untuk menampung tendon tebal yang diperlukan untuk gerakan yang kuat dan elastis. Meskipun mungkin tidak seefisien lompatan spesies yang lebih kecil, adaptasi ini menunjukkan bahwa spesies raksasa ini memang dapat menggunakan lompatan sebagai alat penggerak.

Para peneliti berpendapat bahwa kanguru raksasa mungkin tidak mengandalkan lompatan dalam semua gerakannya, mengingat tidak efisiennya lompatan dalam jarak jauh. Sebaliknya, mereka mungkin menggunakan lompatan singkat untuk menghindari predator seperti singa berkantung yang telah punah Thylacoleo, atau untuk menavigasi medan yang kasar dengan cepat. Tendon yang lebih tebal akan memberikan keamanan yang lebih besar dengan mengorbankan pengembalian energi yang lebih rendah.

Implikasi Lebih Luas bagi Megafauna Australia

Penelitian ini menyoroti keanekaragaman ekologi Australia prasejarah. Beberapa kanguru besar kemungkinan besar sedang merumput seperti kanguru modern, sementara yang lain hanya sekedar penjelajah – mengisi ceruk yang belum pernah ditemukan dalam megafauna masa kini. Temuan ini menunjukkan bahwa kanguru menempati habitat dan perilaku yang lebih luas dari yang diketahui sebelumnya.

“Temuan kami berkontribusi pada gagasan bahwa kanguru memiliki keanekaragaman ekologi yang lebih luas di Australia prasejarah dibandingkan yang kita temukan saat ini,” kata Dr. Robert Nudds, peneliti di Universitas Manchester.

Penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports ini memperkuat gagasan bahwa kanguru yang punah bukan sekadar versi spesies modern yang berukuran besar, namun merupakan hewan yang beradaptasi secara unik dan tumbuh subur dalam konteks ekologi yang berbeda.

Penelitian ini mengubah pemahaman kita tentang bagaimana kanguru berevolusi dan berinteraksi dengan lingkungannya, menunjukkan bahwa batasan fisik tidak selalu mutlak dalam menghadapi seleksi alam.