Kerugian Manusia dalam Eksplorasi Luar Angkasa: Beban Psikologis pada Keluarga Astronot

0
18

Ketika astronot Reid Wiseman menerima kabar bahwa ia akan memimpin misi Artemis II NASA, reaksinya jauh dari kegembiraan yang diharapkan. Sebaliknya, ia merasakan beban tanggung jawab yang berat—tidak hanya kepada krunya, namun juga kepada kedua putrinya, yang merupakan orang tua tunggalnya.

“Ini tidak seperti Anda baru saja memenangkan lotre dan Anda berlari keluar dan melompat kegirangan,” Wiseman berbagi saat tampil baru-baru ini di podcast Curious Universe NASA.

Taruhan Tinggi Artemis II

Beratnya reaksi Wiseman berakar pada risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait dengan misi khusus ini. Artemis II bukan sekadar penerbangan biasa; ini mewakili lompatan besar dalam eksplorasi ruang angkasa dengan beberapa variabel penting:

  • Kesenjangan Setengah Abad: Misi ini menandai pertama kalinya manusia melakukan perjalanan ke Bulan dalam lebih dari 50 tahun.
  • Teknologi Belum Terbukti: Misi ini menggunakan pesawat ruang angkasa yang dirancang untuk membawa manusia yang belum diuji di lingkungan berawak.
  • Margin Kesalahan: Dalam eksplorasi luar angkasa, jarak dari Bumi berarti bahwa setiap kegagalan teknis memiliki risiko yang jauh lebih besar dibandingkan misi orbit rendah Bumi.

Kru Tak Terlihat: Mendukung Keluarga

Meskipun sebagian besar fokus publik masih tertuju pada para astronot itu sendiri, NASA semakin menyadari bahwa keberhasilan misi tersebut terkait erat dengan kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan.

Tekanan psikologis dalam penerbangan luar angkasa bukanlah peristiwa tunggal yang dimulai saat lepas landas. Menurut James Picano, psikolog di Johnson Space Center NASA, stres adalah ujian ketahanan jangka panjang.

“Peluncuran ini merupakan peristiwa yang sangat menegangkan,” kata Picano. “Tetapi ada tekanan yang luar biasa besar pada sebuah keluarga sebelum peluncuran terjadi.”

“Stres sebelum peluncuran” ini berasal dari pelatihan intensif selama berbulan-bulan, meningkatnya jarak fisik, dan ketidakpastian hasil misi. Bagi keluarga, misi ini dimulai jauh sebelum roket meninggalkan landasan, sehingga menciptakan beban psikologis unik yang coba diatasi oleh NASA melalui sistem pendukung khusus.

Mengapa Ini Penting

Ketika NASA bergerak menuju kehadiran manusia yang lebih permanen di dan sekitar Bulan, “faktor manusia” menjadi tantangan logistik utama. Badan tersebut menyadari bahwa untuk mempertahankan eksplorasi ruang angkasa jangka panjang, mereka harus mendukung tidak hanya para pionir di kokpit, namun juga sistem pendukung—keluarga—yang menopang mereka di Bumi.

Misi Artemis II menyoroti bahwa eksplorasi ruang angkasa merupakan tantangan psikologis bagi mereka yang berada di darat dan juga tantangan teknis bagi mereka yang berada di orbit.