Otak Pterosaurus Berevolusi untuk Terbang Tanpa Perlu Pembesaran

0
13

Penelitian baru mengungkapkan bahwa pterosaurus, vertebrata pertama yang bisa terbang dengan tenaga, mengembangkan struktur otak yang diperlukan untuk bergerak di udara tanpa pembesaran otak dramatis seperti yang terlihat pada burung. Sebuah tim internasional menggunakan pencitraan 3D canggih untuk merekonstruksi otak lebih dari tiga lusin spesies, termasuk pterosaurus, kerabat terdekat mereka, dinosaurus purba, buaya, dan burung. Studi tersebut menunjukkan bahwa reptil terbang ini bisa terbang dengan cepat, dengan struktur otak yang lebih mirip dengan dinosaurus yang tidak bisa terbang dibandingkan burung modern.

Evolusi Penerbangan yang Cepat pada Pterosaurus

Pterosaurus muncul sekitar 220 juta tahun yang lalu dan sudah mampu terbang dengan tenaga – kemampuan yang berevolusi secara terpisah pada dinosaurus unggas. Studi baru ini menantang asumsi lama bahwa otak yang lebih besar penting untuk penerbangan dini.

Temuan kuncinya adalah pterosaurus mengembangkan kemampuan terbang pada awal sejarah evolusinya, dan melakukannya dengan otak yang relatif kecil dibandingkan ukuran tubuhnya. Para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins tidak menemukan bukti bahwa pembesaran otak merupakan pendorong awal kemampuan terbang mereka.

“Studi kami menunjukkan bahwa pterosaurus berevolusi untuk bisa terbang sejak awal keberadaannya dan mereka melakukannya dengan otak yang lebih kecil, mirip dengan dinosaurus yang tidak bisa terbang,” kata Dr. Matteo Fabbri.

Peran Visi dan Adaptasi Awal

Tim fokus pada lobus optik, wilayah otak yang bertanggung jawab atas penglihatan, sebagai kunci potensial untuk terbang. Mereka memeriksa otak Ixalerpeton, lagerpetid era Trias – kerabat pterosaurus yang tidak bisa terbang dan tinggal di pohon – dan menemukan bahwa otak tersebut sudah memiliki ciri-ciri yang terkait dengan peningkatan penglihatan, termasuk pembesaran lobus optik.

Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan penglihatan mungkin merupakan batu loncatan menuju penerbangan bagi pterosaurus. Namun, bentuk dan ukuran otak secara keseluruhan antara Ixalerpeton dan pterosaurus menunjukkan sangat sedikit kesamaan, yang menyiratkan bahwa pterosaurus bisa terbang dalam sekejap, dengan cepat mengubah otak mereka untuk memenuhi tuntutan pergerakan di udara.

Kontras dengan Evolusi Burung

Penelitian ini sangat kontras dengan jalur evolusi burung. Meskipun pterosaurus tampaknya “dapat terbang sejak awal”, burung modern tampaknya telah mengembangkan kemampuan terbangnya secara lebih bertahap dan dalam proses selangkah demi selangkah.

Burung mewarisi ciri-ciri seperti otak kecil yang membesar dan lobus optik dari nenek moyang prasejarahnya, dan kemudian menyesuaikannya seiring waktu untuk terbang. Sebuah studi tahun 2024 bahkan menunjukkan perluasan otak kecil sebagai komponen kunci dalam penerbangan burung.

“Pada dasarnya, otak pterosaurus dengan cepat bertransformasi dan memperoleh semua yang mereka butuhkan untuk terbang sejak awal,” jelas Dr. Fabbri.

Implikasi Lebih Luas terhadap Pemahaman Penerbangan

Para peneliti juga menganalisis rongga otak pada fosil buaya dan burung yang punah, membenarkan bahwa otak pterosaurus agak membesar tetapi ukurannya masih sama dengan dinosaurus lain.

Ahli paleontologi Dr. Rodrigo Temp Müller menyoroti bahwa penemuan di Brasil selatan terus menyempurnakan pemahaman kita tentang evolusi awal dinosaurus dan pterosaurus.

Penelitian ini menggarisbawahi bahwa tidak ada satu cara tunggal untuk mengembangkan penerbangan. Pterosaurus menunjukkan bahwa adaptasi kompleks dapat terjadi dengan cepat, bahkan tanpa pembesaran otak yang signifikan, sementara burung mengikuti jalur yang lebih bertahap dan bertahap.

Penelitian di masa depan akan fokus pada detail struktur otak pterosaurus, yang bertujuan untuk mengungkap prinsip biologis dasar di balik penerbangan. Temuan ini muncul di jurnal Current Biology.