Ilmu Dibalik Noda Merah Tabir Surya yang Tak Terduga

0
29

Pernah mencoba memutihkan bekas tabir surya yang membandel dari pakaian favorit Anda hanya untuk mendapatkan cipratan warna merah tua yang mengejutkan? Fenomena yang membingungkan ini membuat penasaran Profesor Clare Mahon dari Departemen Kimia Universitas Durham, sehingga memicu penyelidikan ilmiah yang tidak terduga.

Mahon bekerja sama dengan rekan-rekannya dalam proyek ANTENNA Durham — upaya kolaboratif antara universitas, Procter & Gamble (P&G), dan Imperial College London yang berfokus pada pengembangan solusi pembersihan mutakhir. Misi mereka: untuk mengungkap kimia di balik reaksi aneh tabir surya-pemutih yang mengubah cucian putih polos menjadi kanvas merah cerah.

Penelitian mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Chemical Communications, menyelidiki interaksi sebelas tabir surya komersial populer dengan pemutih. Tujuh dari tabir surya yang diuji menghasilkan warna merah yang berbeda ketika terkena pemutih klorin. Menariknya, ketujuh bahan tersebut mengandung bahan yang sama: diethylaminohydroxybenzoyl hexyl benzoate (DHHB).

Meskipun penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi perubahan dalam molekul DHHB ketika terkena klorin, perubahan ini diyakini tidak menghasilkan perubahan warna yang begitu kuat, sehingga membuat para ilmuwan bingung. Profesor Mahon dan timnya menduga ada lebih banyak cerita yang tidak terlihat.

Untuk menentukan dengan tepat apa yang terjadi pada tingkat molekuler, mereka menggunakan eksperimen resonansi magnetik nuklir (NMR) bekerja sama dengan Profesor Andy Beeby dan Mark Wilson, serta Dr. Alan Kenwright dan Dr. Eric Hughes. Temuan mereka mengungkapkan transformasi yang tidak biasa dalam molekul DHHB—sebuah proses yang disebut ipso-diklorinasi. Pada dasarnya, dua atom klor secara tak terduga menempel pada lokasi yang sama pada salah satu struktur cincin molekul.

Pengaturan tak terduga ini mengubah cara molekul berinteraksi dengan cahaya. Simulasi komputasi yang dilakukan oleh Profesor Mark Wilson menunjukkan bahwa DHHB yang dimodifikasi ini menyerap sebagian besar cahaya tampak dengan panjang gelombang pendek dan menengah, sehingga hanya cahaya dengan panjang gelombang merah yang lebih panjang yang dapat melewatinya – sehingga menghasilkan noda merah cerah yang terlihat secara langsung pada banyak pakaian musim panas yang tidak sengaja dipakai.

Kabar baiknya? Penemuan ini berpotensi menghasilkan formulasi tabir surya yang lebih baik di masa depan. Dengan memodifikasi molekul DHHB untuk melawan ipso-diklorinasi ini, para ilmuwan berharap dapat menghilangkan noda merah yang tidak diinginkan tersebut, sekaligus menjaga handuk pantai dan kaos kita agar tidak menjadi kanvas seni abstrak yang tidak disengaja. Penelitian dan pengujian lebih lanjut diperlukan sebelum modifikasi tersebut mencapai rak-rak toko, namun jalan menuju pakaian musim panas bebas noda tampak menjanjikan.