Misi Artemis II NASA: Kembali ke Orbit Bulan

0
14
Misi Artemis II NASA: Kembali ke Orbit Bulan

NASA sedang bersiap mengirim empat astronot dalam misi terobosan untuk mengorbit bulan, menandai perjalanan terjauh umat manusia dari Bumi sejak misi Apollo 17 pada tahun 1972. Penerbangan Artemis II, yang dijadwalkan akhir tahun ini, akan menguji sistem penting untuk pendaratan di bulan di masa depan dan mewakili langkah signifikan menuju kehadiran berkelanjutan di bulan.

Misi dan Maknanya

Misi ini bukanlah kembalinya mendarat di bulan, melainkan uji terbang yang penting. Tujuan utamanya adalah untuk memvalidasi sistem pendukung kehidupan pesawat ruang angkasa Orion dan komponen penting lainnya di luar angkasa. Jika berhasil, Artemis II akan membuka jalan bagi pendaratan berawak pada awal tahun 2027, menghidupkan kembali eksplorasi manusia di bulan setelah jeda selama beberapa dekade.

Kebangkitan program Artemis bukan hanya tentang penemuan ilmiah. Ini juga tentang eksplorasi sumber daya. Bulan mempunyai potensi untuk menambang air beku untuk misi luar angkasa di masa depan dan mengekstraksi helium-3, sebuah isotop langka yang dapat menjadi bahan bakar pembangkit listrik fusi. Hal ini menjadikan bulan sebagai aset strategis utama untuk pengembangan ruang angkasa jangka panjang.

Perangkat Keras: SLS dan Orion

Misi tersebut akan menggunakan roket Space Launch System (SLS) milik NASA, yang setara dengan Saturn V modern yang digunakan pada era Apollo. SLS memiliki tinggi 322 kaki, berat 5,75 juta pon saat diisi bahan bakar, dan dapat mengangkat 60.000 pon ke bulan. Roket ini merupakan perpaduan teknologi yang telah terbukti dari pesawat ulang-alik tahun 1970-an, yang diperbarui dengan teknik modern.

Kapsul Orion akan membawa para astronot ke orbit bulan dan kembali lagi. Modul kru akan mendarat di Samudera Pasifik dekat San Diego setelah kembali ke Bumi. Desain Orion mencakup lintasan “kembali bebas”, yang berarti pesawat ruang angkasa dapat kembali ke Bumi meskipun sistem propulsinya mengalami kegagalan, sehingga memastikan keselamatan awaknya.

Kru: Sejarah Sedang Dibuat

Awak Artemis II termasuk tiga astronot NASA – Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, dan Spesialis Misi Christina Koch – semuanya veteran Stasiun Luar Angkasa Internasional. Bergabung dengan mereka adalah astronot Kanada Jeremy Hansen, menjadikannya anggota kru non-NASA pertama dalam misi bulan.

Victor Glover akan menjadi astronot kulit hitam pertama yang melakukan perjalanan mengelilingi bulan, dan Christina Koch menjadi wanita pertama. Pencapaian ini menandai era baru keberagaman dalam eksplorasi ruang angkasa.

Jalan Maju: Artemis III dan Selanjutnya

NASA awalnya berencana mendaratkan astronot di bulan pada akhir tahun 2028 dengan Artemis III. Namun, rencana telah berubah. Artemis III sekarang akan melakukan uji terbang di orbit Bumi, mempraktikkan manuver pertemuan dengan SpaceX dan pendarat bulan Blue Origin. Jika berhasil, Artemis IV dan V dapat melakukan pendaratan paling cepat pada tahun 2028, yang berpotensi memenuhi tujuan mantan Presiden Trump untuk mengembalikan astronot ke bulan sebelum masa jabatan keduanya berakhir.

Total biaya pengembangan SLS, Orion, dan sistem darat telah melebihi $50 miliar. Setiap peluncuran SLS/Orion diperkirakan menelan biaya sekitar $4,1 miliar. Hal ini menyoroti komitmen finansial besar yang diperlukan untuk eksplorasi luar angkasa.

Misi Artemis II bukan sekadar perjalanan simbolis; ini adalah langkah penting menuju terciptanya kehadiran manusia yang berkelanjutan di luar Bumi. Keberhasilan misi ini akan menentukan kecepatan dan arah eksplorasi bulan selama beberapa dekade mendatang.