Star Trek: Starfleet Academy Diluncurkan dengan Kadet Baru

0
21

Serial yang sangat dinantikan Star Trek: Starfleet Academy telah resmi memulai debutnya di Paramount+, memperkenalkan karakter generasi baru ke alam semesta yang telah lama ada. Dibuat oleh Gaia Violo, pertunjukan sepuluh episode ini mengambil latar pada abad ke-32, 120 tahun setelah peristiwa bencana yang dikenal sebagai The Burn (ditemukan pada Star Trek: Discovery )—suatu periode ketika sebagian besar kapal berkemampuan warp dinonaktifkan.

Serial ini mengikuti kelas baru taruna Starfleet saat mereka menjalani pendidikan dan tantangan galaksi yang masih belum pulih dari kehancuran yang meluas. Pembakaran itu sendiri adalah momen penting bagi garis waktu Trek, yang membentuk kembali politik antarbintang dan memaksa evaluasi ulang infrastruktur galaksi. Starfleet Academy bukan sekadar kelanjutan cerita; ini adalah pernyataan tentang ketahanan dan pembangunan kembali di alam semesta yang telah mengalami kehilangan yang sangat besar.

Baru-baru ini, Space.com berbicara dengan tiga bintang acara yang sedang naik daun: Bella Shepard (Genesis Lythe), Zoë Steiner (Tarima Sadal), dan Karim Diané (Jay-Den Kraag). Setiap aktor berbagi wawasan tentang peran mereka, hubungan mereka dengan karakter, dan apa artinya bergabung dengan warisan Star Trek.

Perspektif Pemeran

Shepard mengucapkan terima kasih atas reaksi penggemar yang sangat positif dan kesempatan untuk bekerja bersama aktor veteran seperti Holly Hunter, Paul Giamatti, Bob Picardo, dan Jonathan Frakes. Penulisan acara tersebut juga menonjol bagi Steiner, yang menyoroti keseimbangan langka antara fiksi ilmiah fantastik dan pengembangan karakter realistis.

Diané menceritakan momen yang sangat mengejutkan: duduk di kursi kapten di jembatan USS Athena. “Saya seperti, ‘Ini gila,’” katanya, menangkap pengalaman nyata memasuki dunia Star Trek yang ikonik.

Koneksi Karakter

Para aktor juga membahas persamaan dan kontras antara diri mereka di kehidupan nyata dan kepribadian mereka di layar. Diané, yang berperan sebagai kadet Klingon Jay-Den Kraag, dengan bercanda mengakui bahwa dia tidak memiliki ciri-ciri karakter yang mengesankan tetapi merasakan hubungan yang mendalam dengan konflik internal Jay-Den.

“Saya sama sekali tidak mirip Jay-Den di kehidupan nyata… tapi secara internal kami hampir sama. Saya orang Afrika Barat dan Afrika Tengah… suku saya adalah suku Mandingo… Saat tumbuh dewasa, saya diharapkan menjadi pejuang, namun saya hanya ingin menjadi seniman. Mirip sekali dengan Jay-Den, dia tidak ingin menjadi pejuang, dia ingin menjadi kekasih dan penyembuh.”

Shepard mencatat ambisi yang sama dengan Genesis Lythe, sekaligus mengakui tekanan unik karakter tersebut yang berasal dari ekspektasi ayahnya. Steiner menemukan kesamaan dengan Tarima Sadal dalam kedalaman emosi mereka, bercita-cita untuk meniru kasih sayang karakternya.

Star Trek: Starfleet Academy bukan hanya tentang kapal luar angkasa dan dunia asing; ini tentang kondisi manusia (dan alien), ambisi, dan perjuangan untuk menentukan jalannya sendiri. Serial baru ini merupakan bukti kemampuan abadi Star Trek dalam merefleksikan dunia kita sendiri melalui lensa masa depan yang penuh harapan.