Pada tanggal 6 April, kru misi Artemis 2 NASA akan mencoba mengambil gambar modern penerus salah satu gambar paling berpengaruh dalam sejarah manusia: foto “Earthrise”. Saat pesawat luar angkasa berayun mengelilingi sisi jauh bulan, para astronot akan berusaha mendokumentasikan planet asal kita yang terbit di cakrawala bulan, dengan harapan dapat membangkitkan rasa persatuan global yang sama seperti yang diilhami oleh gambar asli tahun 1968.
Warisan Apollo 8
Untuk memahami pentingnya misi mendatang ini, kita harus melihat ke belakang 57 tahun ke Malam Natal 1968. Selama misi Apollo 8, astronot Bill Anders menangkap bidikan spontan Bumi biru cerah yang mengintip dari lanskap bulan kelabu yang tandus.
Pada saat itu, dunia sedang terpecah belah akibat Perang Vietnam dan menghadapi krisis lingkungan hidup. Foto “Earthrise” menjadi simbol budaya yang kuat, berfungsi sebagai manifesto visual bagi gerakan anti-perang dan gerakan lingkungan yang sedang berkembang. Hal ini memberikan perspektif yang belum pernah dilihat umat manusia: sebuah “marmer biru” yang tampak sangat rapuh dan terisolasi di tengah ruang hampa yang luas dan tak kenal ampun.
Misi yang Direncanakan vs. Momen Spontan
Meskipun Earthrise yang asli adalah sebuah keberuntungan, upaya Artemis 2 adalah upaya ilmiah dan artistik yang disengaja.
- Apollo 8: Para kru melakukan 10 orbit bulan. Foto ikonik itu tidak direncanakan; Anders memperhatikan pemandangan melalui jendela dan harus segera mengganti film hitam-putih dengan warna untuk mengabadikan momen tersebut.
- Artemis 2: Misi ini adalah terbang lintas berkecepatan tinggi. Kapsul Orion, yang diberi nama Integrity, tidak akan memasuki orbit bulan melainkan akan berayun di sisi jauh pada ketinggian antara 4.000 dan 6.000 mil.
Para kru—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen—akan memiliki peluang yang sangat sempit. Mereka ditugaskan untuk menangkap “Earthrise” (planet yang muncul di balik cakrawala bulan) dan “Earthset” (planet yang menghilang di belakangnya) selama transit singkat selama 45 menit di sekitar sisi jauh bulan.
Perbedaan Teknis: Dulu dan Sekarang
Gambar-gambar baru ini akan terlihat berbeda secara mendasar dari gambar asli tahun 1968 karena beberapa faktor teknis dan orbital:
- Ketinggian: Apollo 8 terbang hanya 60 mil di atas permukaan bulan, menciptakan kesan kedekatan. Artemis 2 akan 100 kali lebih tinggi, yang berarti bulan akan tampak jauh lebih kecil dalam bingkai—kira-kira seukuran bola basket yang dipegang sejauh lengan.
- Pencahayaan: Saat Apollo 8 menangkap permukaan bulan yang diterangi matahari, Artemis 2 akan terbang dalam kondisi pencahayaan parsial. NASA memperkirakan hal ini akan menciptakan bayangan panjang yang menonjolkan topografi bulan, memperlihatkan punggung bukit dan tepi kawah yang sering tersapu oleh sinar matahari langsung.
- Peralatan: Era film telah berlalu. Daripada menggunakan kamera Hasselblad, kru akan menggunakan kamera digital Nikon D5, yang memungkinkan kontrol yang lebih baik terhadap eksposur dan pengaturan untuk memastikan pengambilan gambar berhasil.
Mengapa Ini Penting Saat Ini
Upaya mencapai “Earthrise” yang baru lebih dari sekadar latihan fotografi. Saat ini kita sedang hidup dalam era yang ditandai dengan ketegangan geopolitik yang intens dan meningkatnya permasalahan iklim—yang serupa dengan iklim sosial pada akhir tahun 1960an.
“Gambar Earthrise yang asli memiliki pengaruh yang besar sebagian karena keadaan di Bumi pada saat pengambilannya… Kita hanya bisa berharap bahwa gambar Earthrise yang baru akan memberikan pengingat bahwa kita semua hidup bersama di satu planet yang rapuh.”
Dengan mencoba menangkap perspektif ini sekali lagi, NASA bertujuan untuk memberikan pengingat visual modern tentang tanggung jawab kita bersama untuk melindungi satu-satunya rumah yang kita miliki.
Kesimpulan: Dengan meninjau kembali citra ikonik era Apollo, misi Artemis 2 berupaya menjembatani kesenjangan antara inspirasi sejarah dan eksplorasi modern, menggunakan sudut pandang baru untuk mengingatkan dunia yang terpecah akan kerapuhan yang dimiliki bersama.





















