Spesies Pengicau Permata Baru Ditemukan di Papua Nugini

0
19

Ahli ornitologi telah mengkonfirmasi keberadaan spesies burung yang sebelumnya tidak diketahui di kawasan hutan karst terpencil di Papua Nugini. Penemuan ini, yang dilakukan dengan menggunakan kamera jebakan otomatis, memperkenalkan anggota baru ke dalam genus Ptilorrhoa – umumnya dikenal sebagai pengicau permata – sebuah kelompok yang unik di New Guinea dan pulau-pulau sekitarnya.

Mengidentifikasi Spesies Tersembunyi

Burung pengicau permata adalah hewan pemakan serangga kecil yang hidup di darat yang memiliki ciri tubuh montok, sayap pendek, dan ciri khas: topeng hitam, bagian tenggorokan atau pipi yang kontras, dan bulu lembut, sering kali berwarna biru atau kastanye. Burung-burung ini biasanya lebih sering terdengar daripada terlihat karena sifatnya yang pemalu dan lebih menyukai interior hutan lebat.

Saat ini, ada empat spesies pengicau permata yang dikenali, masing-masing menempati ketinggian berbeda di New Guinea. Burung pengicau permata biru tumbuh subur di dataran rendah, burung kastanye di perbukitan, dan burung pengicau yang terlihat di hutan pegunungan. Jenis keempat, burung pengicau permata berkepala coklat, mempunyai distribusi yang terfragmentasi di timur laut Papua Nugini dan di Pulau Yapen.

Terobosan Perangkap Kamera

Spesies baru ini, yang dijuluki pengicau permata berkerudung (Ptilorrhoa urrissia ), pertama kali diamati pada tahun 2017 melalui studi kamera jebakan jangka panjang di Punggung Bukit Iagifu di Provinsi Dataran Tinggi Selatan. Selama 1.800 hari kamera, para peneliti mengambil 94 foto dan tujuh video burung tersebut, memastikan perbedaannya dari bentuk Ptilorrhoa yang diketahui. Meskipun melakukan pencarian khusus, para peneliti gagal menangkap burung tersebut secara fisik hingga tahun 2024.

Populasi dan Habitat Terbatas

Pengoceh permata berkerudung tampaknya merupakan penduduk tetap Punggung Bukit Iagifu, dengan penampakan yang konsisten selama tujuh tahun. Perkiraan total populasi sangat kecil, kemungkinan kurang dari sepuluh individu. Pengamatan menunjukkan adanya struktur sosial berpasangan atau kelompok keluarga kecil, mirip dengan pengoceh permata lainnya.

Para peneliti yakin spesies ini mungkin menempati habitat pegunungan terpencil dan berketinggian rendah yang terfragmentasi di bagian selatan Papua Nugini, kemungkinan besar berada di antara Gunung Bosavi dan Gunung Karimui. Burung-burung tersebut tampak kurang vokal dibandingkan burung pengicau permata lainnya, menunjukkan perilaku yang mirip dengan spesies pegunungan.

Ancaman terhadap Kelangsungan Hidup

Burung pengicau permata berkerudung menghadapi berbagai ancaman, termasuk predator asli seperti quoll, dasyures, dan raptor. Predator asing, khususnya kucing dan anjing peliharaan, juga menimbulkan risiko yang signifikan. Yang semakin memperumit kelangsungan hidup mereka adalah ancaman perubahan iklim yang akan berdampak besar pada spesies di dataran rendah dengan kemampuan penyebaran yang terbatas.

Penemuan ini secara resmi dipublikasikan di jurnal Ibis pada tanggal 26 November 2025. Burung pengicau permata bertudung ini merupakan bukti keanekaragaman hayati yang tersembunyi di New Guinea, namun masa depannya masih belum pasti mengingat tekanan dari ancaman alam maupun ancaman yang disebabkan oleh manusia.