Virus Umum Terkait Kuat dengan Serangan Multiple Sclerosis

0
19

Banyak bukti menunjukkan bahwa virus Epstein-Barr (EBV) – salah satu virus yang paling tersebar luas secara global – sebagai pemicu utama multiple sclerosis (MS), sebuah penyakit autoimun yang melemahkan. Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah mencurigai adanya hubungan, namun penelitian baru kini mengungkap bagaimana virus ini dapat mendorong perkembangan penyakit ini.

EBV yang Ada di Mana-Mana dan Peran Misteriusnya

EBV, yang menyebabkan mononukleosis menular (“penyakit berciuman”), menginfeksi sekitar 95% populasi orang dewasa. Penyakit ini menetap di dalam tubuh, bahkan terkadang bersembunyi di dalam sel otak, lama setelah paparan awal. Korelasi yang mencolok antara infeksi EBV dan MS telah diketahui selama beberapa waktu: orang dengan MS hampir secara universal dinyatakan positif pernah terpapar EBV sebelumnya. Sebuah penelitian penting pada tahun 2022 terhadap lebih dari 10 juta orang mengungkapkan bahwa risiko MS meningkat 32 kali lipat setelah infeksi EBV – hubungan yang jauh lebih kuat dibandingkan virus lain yang diuji.

Sel T Pembunuh sebagai Bagian yang Hilang

Para peneliti di Universitas California, San Francisco (UCSF) kini telah mengidentifikasi mekanisme yang masuk akal di balik hubungan ini. Penelitian terbaru mereka menunjukkan bahwa sel T “pembunuh” – sel kekebalan yang dirancang untuk menghancurkan sel yang terinfeksi – secara signifikan lebih banyak terdapat pada pasien MS. Yang penting, banyak dari sel T ini secara spesifik diaktifkan melawan protein EBV.

“Melihat sel T CD8+ yang belum diteliti ini menghubungkan banyak titik berbeda dan memberi kita gambaran baru tentang bagaimana kemungkinan EBV berkontribusi terhadap penyakit ini,” kata ahli saraf Joe Sabatino di UCSF. Hal ini menunjukkan sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang serabut saraf tubuh setelah diserang oleh virus.

Bukti dari Darah dan Cairan Tulang Belakang

Tim UCSF menganalisis darah dan cairan serebrospinal (CSF) dari 13 pasien MS dan membandingkannya dengan 5 kontrol (termasuk pasien dengan kondisi peradangan lainnya). Hasilnya sangat mengejutkan: sel T pembunuh reaktif EBV hingga 100 kali lebih terkonsentrasi di CSF pasien MS dibandingkan di dalam darah mereka. Hal ini menunjukkan respons imun agresif yang terjadi di otak dan sumsum tulang belakang.

Selain itu, gen EBV yang aktif terdeteksi pada CSF pasien MS – gen yang tidak ada atau tidak aktif pada pasien tanpa penyakit tersebut. Satu gen, khususnya, secara eksklusif aktif pada pasien MS, menunjukkan bahwa virus tersebut tidak hanya ada tetapi aktif kembali di dalam sistem saraf pusat.

Implikasi Lebih Luas terhadap Penyakit yang Dimediasi Kekebalan Tubuh

Implikasinya melampaui MS. EBV semakin dikaitkan dengan kondisi autoimun dan neurologis lainnya, termasuk lupus, kanker tertentu, skizofrenia, long COVID, sindrom kelelahan kronis, dan bahkan demensia. Memahami bagaimana EBV memanipulasi sistem kekebalan tubuh dapat membuka kunci pengobatan untuk berbagai macam penyakit.

“Harapan besarnya adalah jika kita dapat melakukan intervensi terhadap EBV, kita dapat memberikan dampak yang besar, tidak hanya pada MS tetapi juga pada penyakit lain, dan meningkatkan kualitas hidup banyak orang,” kata Sabatino.

Intervensi terhadap EBV dapat membawa terobosan besar dalam pengobatan berbagai penyakit, tidak hanya MS. Peran virus dalam disfungsi kekebalan tubuh menjadi lebih jelas, dan terapi di masa depan mungkin berfokus pada pengendalian atau penekanan aktivitas EBV untuk mencegah atau meringankan kondisi ini.