Katedral Sains: Di Dalam Institut Penelitian Monumental Uni Soviet

0
19

Uni Soviet tidak hanya membangun pabrik dan blok apartemen; itu membangun katedral pengetahuan. Ini adalah lembaga ilmiah yang sangat besar, dirancang dengan kemegahan yang dimaksudkan untuk menggantikan ibadah keagamaan dengan pengabdian terhadap kemajuan dan kekuasaan negara. Fotografer Eric Lusito telah menangkap keindahan yang menghantui dari struktur ini dalam buku barunya, Soviet Scientific Institutes, yang mengungkap dunia tempat arsitektur brutal bertemu dengan fisika berisiko tinggi.

Perjalanan Melalui Waktu yang Beku

Proyek Lusito dimulai pada akhir tahun 2021, tepat sebelum invasi Rusia ke Ukraina. Kunjungan pertamanya ke tiga lokasi di negara tersebut mengingatkan kita pada buku komik masa mudanya—khususnya dunia petualangan dan sarat teknologi dalam Tintin karya Hergé dan Blake and Mortimer karya Edgar P. Jacobs.

“Saya merasa tempat-tempat ilmiah ini sangat menarik dan saya ingin melihat lebih banyak lagi,” kata Lusito. “Saya tertarik pada keindahan misterius mereka, sejarah mereka, dan cara mereka berevolusi dari waktu ke waktu.”

Selama empat tahun berikutnya, Lusito melakukan perjalanan melintasi bekas Uni Soviet, mendapatkan akses langka ke fasilitas yang ditutup atau diabaikan sejak runtuhnya Uni Soviet. Dia bekerja sama dengan ilmuwan lokal untuk mendokumentasikan situs-situs mulai dari kapsul waktu yang terpelihara dengan indah hingga reruntuhan yang hancur.

Pertarungan demi Estetika

Dampak visual dari lembaga-lembaga ini bukanlah suatu kebetulan. Pada puncaknya, ribuan ilmuwan bergerak melalui lorong-lorong ini, mencatat papan kehadiran yang berwarna-warni seperti yang ada di Institut Radiofisika dan Elektronika di Ukraina. Namun di balik layar, sering kali terjadi pertarungan politik mengenai desain.

Contoh utama adalah ruang kendali Teleskop Radio-Optik Orgov di Armenia, yang dirancang pada tahun 1970-an oleh ilmuwan Paris Herouni. Keadaan ruangan yang elegan dan terpelihara sangat kontras dengan estetika utilitarian khas Soviet. Lusito mengetahui dari keponakan Herouni bahwa sang desainer harus berjuang melawan administrator ilmiah Moskow untuk mewujudkan visinya. Perjuangan ini menyoroti aspek yang kurang dikenal dalam ilmu pengetahuan Soviet: ketegangan antara pragmatisme birokrasi dan keinginan untuk berekspresi secara monumental dan hampir artistik.

Dari Sambaran Petir hingga Sinar Kosmik

Penelitian yang dilakukan di dalam tembok ini bervariasi dari yang sangat praktis hingga yang murni mendasar.

  • Fisika Terapan: Di Kharkiv, Ukraina, bekas Institut Elektroteknik memiliki aula bertegangan tinggi tempat para ilmuwan menghasilkan sambaran energi seperti kilat. Tujuan mereka bersifat pragmatis: memahami cara melindungi jaringan listrik terpadu di negara tersebut. Ambisi karya ini diabadikan dalam mural era Soviet yang menggambarkan tangan menggenggam sambaran petir.
  • Penelitian Dasar: Di Armenia, eksperimen MAKET-ANI di Stasiun Penelitian Sinar Kosmik Aragats tampak seperti angkasa. Di sini, para ilmuwan mengukur partikel berenergi tinggi yang jatuh melalui atmosfer dan menetap di puncak Gunung Aragats yang tertutup salju.

Situs-situs ini mewakili sifat ganda ilmu pengetahuan Soviet: melayani kebutuhan infrastruktur negara sekaligus mengejar batas-batas pengetahuan manusia.

Dampak Konflik dan Pembaruan

Lanskap geopolitik telah mengubah nasib lembaga-lembaga ini secara drastis. Banyak fasilitas di Ukraina, seperti Institut Ionosfer di Kharkiv—yang menampung antena berukuran 100 meter—terpaksa menghentikan operasinya setelah pecahnya perang. Bagi Lusito, memotret situs-situs ini seperti berpacu dengan waktu, mendokumentasikan warisan ilmiah yang kini terancam.

Namun, cerita ini tidak sepenuhnya tentang pembusukan. Di Kazakhstan, Lusito menemukan simbol ketahanan di Observatorium Assy-Turgen. Situs ini menampung teleskop AZT-20, bertempat di paviliun setinggi 45 meter. Pembangunannya dimulai pada tahun 1980an namun terhenti karena runtuhnya Uni Soviet. Beberapa dekade kemudian, proyek ini dilanjutkan kembali pada tahun 2010-an dan selesai pada tahun 2017. Saat ini, teleskop ini berdiri sebagai teleskop terbesar di Kazakhstan dan salah satu yang paling signifikan di kawasan pasca-Soviet.

Kesimpulan

Foto-foto Eric Lusito menawarkan lebih dari sekedar survei arsitektur; mereka memberikan sejarah visual dari suatu era yang berupaya mengangkat sains ke status agama. Meskipun beberapa dari “katedral ilmiah” ini berada dalam reruntuhan atau sunyi akibat konflik, yang lain masih terus beroperasi, membuktikan bahwa pencarian pengetahuan dapat bertahan lebih lama dari sistem politik yang melahirkannya.